Harapan yang Disertai Amal

Berjuta-juta kaum muslim yang kini melaksanakan sholat, zakat, puasa, dan haji tapi apakah telah ada perubahan yang mendasar dalam kehidupan kaum muslim?
Berbeda jumlah kaum muslim di era Rasulullah ﷺ dan saat ini, jauh sekali perbedaannya. Dulu kita minoritas namun kini kita mayoritas. Tapi nyatanya dengan jumlah mayoritas yang kita miliki, kita belum memiliki eksistensitas tuk akhirnya dapat diperhitungkan.
Hal itu terjadi karena ada sesuatu yang hilang dari kaum muslim yaitu kepribadian musllim dan akhlak. Rasulullah  telah membina dan membentuk kepribadaian muslim sesuai Al-Qur'an yang diserukan melalui ayat-ayat-Nya. Muslim dengan kepribadian seperti itulah yang senantiasa berusaha mengenal Khaliqnya melalu al-Qur'an agar ia dapat beribadah kepada-Nya, mengenal hakikat keberadaan-Nya, dapat melaksanakan perintah-Nya, dan mengenal tempat di mana ia akan kembali, sehingga ia dapat beramal sebagai bekal menuju akhirat. Rasulullah ﷺ telah berhasil membentuk generasi yang memiliki  kepribadian semacam itu, yaitu dengan munculnya suatu umat yang sanggup memikul risalah, mendirikan daulah, membangun peradaban, dan mengukir sejarah besar nan gemilang.

Hal itu karena Islam merupakan risalah pembinaan sebelum menjadi risalah hukum, risalah akhlak sebelum risalah jihad, risalah kemuliaan dan nilai sebelum menjadi banyak pengikutnya dan tersebar luas. Maka inti dari risalah Islam adalah akhlak dan ihsan, sarananya adalah keteladanan dan pembinaan, sedangkan objek yang  pertama kali dituju adalah jiwa dan hati manusia.
Esensi risalah islam meliputi dakwah dan penyerunya. Dakwah bukanlah urusan yang mudah, akan tetapi ia merupakan amanah agung yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung. Mereka semua menolak tuk memikulnya, kemudian manusia memberanikan diri menerimanya meskipun manusia itu banyak berbuat aniaya dan tidak mengetahui.
Dakwah memerlukan para dai yang mukhlis, giat, dan dinamis dalam mendidik dan membangun generasi. Kekurangan kita bukanlah terletak pada manhaj, bukan pula pada sarana, akan tetapi pada kepribadian, kualitas akhlak dan jati diri muslim.

Untuk memenuhi harapan akan bangkitnya generasi Islam melalui para dai lah Allah menaklukan hati hamba-hamba-Nya. Para dai merupakan pembawa cahaya di tengah-tengah umat yang  tengah dalam kegelapan. Mereka adalah benih-benih kesadaran yang tertanam di tengah umat yang sedang tertidur. Mereka adalah tumpuan harapan dunia pada saat dunia sedang dilanda krisis petunjuk, dan pada saat yang sama mereka mementingkan diri dan kekufuran. Komitmen kita menjadi seorang muslim secara langsung menjadikan kita harus berkomitmen pula menjadi seorang dai. Komitmen tuk mengajarkan, menyebarkan, menyampaikan, mendidik umat dengan segala yang kita miliki untuk kepentingan jalan dakwah ini. Terwujudnya harapan, datangnya kemenangan membutuhkan jihad yang panjang.

Hai para dai, semoga Allah merahmati dan melimpahkan keberkahan atas segala pengorbananmu:)
Sesungguhnya kaum kafir ingin merobek ajaran Al-Qur'an, bukan merobek kertasnya. Mereka ingin membengkokkan jiwa, merobek hati, dan menghitamkannya, hingga hati enggan untuk menerima petunjuk Al-Qur'an yang Allah telah menjadikannya sebagai cahaya yang menerangi manusia.



*Mencatut isi Buku Fiqih Dakwah karya Syaikh Jum'ah Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sex versus Gender