Pemantik
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
[ Q.S. An-Nisa:9]
Mungkin ayat inilah yang dijadikan dasar panitia PKMF MIPA (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) mengambil tajuk "Urgensi Kaderisasi" untuk materi kegiatan ini dengan pemateri Kak Solin Nurdin (FE) dan moderator Muhammad Rifani Susanto (FMIPA). Tajuk inilah yang menjadi pemantik pemuda untuk lebih mengenal keadaan dan kebutuhan lingkungan. Entah yang awalnya telah mengerti tapi belum tergerak untuk melakukan atau yang telah melakukan tapi butuh penguatan. Kak Solin menjelaskan secara umum hingga khusus.
Kaderisasi adalah suatu proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Sedangkan kader adalah orang yang akan diharapkan untuk memegang peran penting dalam pemerintahan. Kader dapat menjalankan perannya setiap saat karena sesungguhnya pengkaderan terjadi di setiap peristiwa yang kita alami.
Kaderisasi ibarat jantung yaitu sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh dimana bertugas untuk menjadikan darah mengalir dan terus terbarukan. Wujud nyata tugas kaderisasi yaitu sebagai pembentukan, pengembangan, penjagaan, dan pewarisan. Dalam melaksanakan tugasnya kaderisasi mengadakan agenda pengkaderan yang berisi mengenai pewarisan nilai organisasi, penjamin keberlangsungan organisasi, dan sarana belajar bagi anggota.
Tidaklah mudah melaksanakan tugas kaderisasi karena untuk menjadi kader dibutuhkan dua kepala dan dua hati, dimana satu kepalanya telah selesai dengan segala problematikanya sendiri dan satu kepalanya yang lain rela untuk memikirkan problematika orang lain. Begitu juga untuk hati, satu hatinya telah selesai dengan urusan hatinya sendiri dan satu hatinya yang lain rela untuk merasakan suka, duka orang lain. Tak dipungkiri tantangan dan kendala dalam kaderisasi terus menerjang seperti halnya keadaan kaderisasi yang monoton dan tidak peka terhadap perkembangan zaman, kader belum memahami urgensi kaderisasi, krisis kader, dan kejenuhan dalam kaderisasi. Untuk mengantisipasi tantangan dan kendala itu semua maka dibuatlah alur pengkaderan UNJ, yaitu:
Tidaklah mudah melaksanakan tugas kaderisasi karena untuk menjadi kader dibutuhkan dua kepala dan dua hati, dimana satu kepalanya telah selesai dengan segala problematikanya sendiri dan satu kepalanya yang lain rela untuk memikirkan problematika orang lain. Begitu juga untuk hati, satu hatinya telah selesai dengan urusan hatinya sendiri dan satu hatinya yang lain rela untuk merasakan suka, duka orang lain. Tak dipungkiri tantangan dan kendala dalam kaderisasi terus menerjang seperti halnya keadaan kaderisasi yang monoton dan tidak peka terhadap perkembangan zaman, kader belum memahami urgensi kaderisasi, krisis kader, dan kejenuhan dalam kaderisasi. Untuk mengantisipasi tantangan dan kendala itu semua maka dibuatlah alur pengkaderan UNJ, yaitu:
Pengkaderan ideal memang sulit dilaksanakan tetapi untuk memperbaiki perkaderan sebaiknya diadakan penyesuaian wilayah, penyesuaian kultur budaya, dan follow up. Perlu ditekankan bahwa tugas kaderisasi bukan hanya tugas departemen kaderisasi/PSDM/HRD ada nama departemen yang sejenisnya, melainkan menjadi seorang kader adalah tugas semua anggota organisasi tersebut bahwa tugas mereka yang telah melakukan kegiatan pelatihan kepemimpinan karena sesungguhnya mereka telah memiliki ilmu yang seharusnya dapet mereka amalkan.
“Jika di dunia ini kita tidak menegakkan umat baru yang mengemban dakwah dan mengibarkan risalah kebenaran, maka selamat tinggal bagi dunia dan kemanusiaan.”
[Hasan Al-Banna]
#PKMFMIPA2018
#FMIPAKITA
#Kreatif_Inisiatif_Aktif
#FMIPAKITA
#Kreatif_Inisiatif_Aktif


Komentar
Posting Komentar