Back to Qur'an


Saat ini mahasiswa muslim terus mengembangkan potensinya terlihat dari wacana yang mereka perbincangkan. Ada mahasiswa yang aktif di masjid seringkali terlibat perbincangan keagamaan seperti dakwah, fiqih, tasawuf, dan pemerintahan islam yang ideal. Sementara di sisi lain, ada mahasiswa yang mendiskusikan masalah sosial, politik, hukum, dan ekonomi. Tetapi sayangnya sulit menemukan mahasiswa berdikusi tentang ilmunya sendiri termasuk pengembangannya.

Kita memiliki pedoman hidup yaitu al-qur’an dimana dari tiap ayatnya adalah firman Allah Subhana Wa Ta’ala Sang Penguasa Bumi dan Langit. Allah berfirman dalam kalam-Nya:


“… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [Q.S. An-Nisaa’: 113]


”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Q.S. Ali-Imran :191]

Allah telah menyuruh hamba-Nya untuk selalu berpikir tentang kekuasaan-Nya. Seharusnya kita sebagai mahasiswa muslim dapat terus memikirkan dan menggali tanda-tanda kebesaran Allah untuk mengembangkan dan membumikan islam dari segala segi termasuk segi ilmu pengetahuan. Kini banyak polemik ilmu pengetahuan yang berujung pada opini yang menyesatkan dan berbahaya, tak sedikit ilmuwan yang dinyatakan dirinya sebagai atheis misalnya Stephen Hawking.

Hawking menemukan teori dan karya yang hebat dalam ilmu pengetahuan. Misalnya penemuan teori lubang hitam (Black Hole) yang terkenal. Hawking pun mampu menjelaskan secara detail mengenai lubang hitam berdasarkan teori kuantum dan relativitas umum dari Albert Einstein.

Namun, Hawking menyatakan bahwa dirinya "tidak religius secara akal sehat" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan atau sains. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum”. Pada 2010 Hawking menyatakan, “Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, (dan) ilmu pengetahuan, yang berdasarkan pada observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti.” Dalam bukunya, The Grand Design, Ia mengemukakan “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta."

Tak ayal pernyataan Hawking ini dapat membuat orang-orang yang ilmu agamanya kurang terpengaruh ingin menjadi atheisme juga. Oleh karena itu, umat islam khususnya kita sebagai mahasiswa muslim harus dapat menyeimbangi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat dengan mengenggam dunia di tangan bukan di hati. Dimana ilmu pengetahuan dipelajari dari al-qur’an, maka kita harus back to qur’an.

Seperti halnya salah satu fisikawan muslim yaitu Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al Biruni. Sebagai seorang fisikawan, Al-Biruni memberikan sumbangan penting bagi pengukuran jenis berat (specific gravity) berbagai zat dengan hasil perhitungan yang cermat dan akurat. Konsep ini sesuai dengan prinsip dasar yang ia yakini bahwa seluruh benda tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Teori ini merupakan pintu gerbang menuju hukum-hukum Newton 500 tahun kemudian. Al Biruni juga mengajukan hipotesa tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya. Konsep ini lalu dimatangkan dan diformulasikan oleh Galileo Galilei 600 tahun setelah wafatnya Al Biruni.

Pandangan Al-Biruni berbeda sekali dengan pandangan saintis barat modern yang melepaskan sains dari agama. Pandangan mereka tentang alam berusaha menafikan keberadaan Allah sebagai pencipta. Berbeda dengan Hawking, dalam bukunya, Al-Jamahir, Al-Biruni menegaskan, "Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah." Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya.

Al-Biruni pun merupakan salah satu fisikawan  Muslim yang menjadi jembatan dan perantara bagi kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern saat ini. Dari dunia islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia barat yang mendorong menculnya zaman pencerahan (renaissance) di eropa. Melalui dunia islam, barat mendapat akses untu mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern.

Seharusnya sebagai mahasiswa muslim, kita dapat meneladani Al Biruni yaitu dengan tumbuh dan besar dalam kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sesuai dengan tuntunan-Nya. Dan berusaha menjadikan zaman keemasan Islam kembali bangkit dengan pergerakan Islam dan ilmu pengetahuan berlandaskan Al-Qur'an dan As-sunnah.






Referensi: :
Administrator sejarah. Al Biruni, Penemu Gaya Gravitasi. 06 April 2018. http://rumahislam.com/ensi/3-ilmuwan-muslim/596-al-biruni-penemu-gaya-gravitasi.html
Purwanto, Agus. 2015. Ayat-Ayat Semesta (Sisi-Sisi Al-Qur'an yang Terlupakan). Bandung: Mizan.
Wink. Biografi Stephen Hawking. 06 April 2018. http://www.biografiku.com/2011/05/biografi-stephen-hawking.html?m=1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sex versus Gender